Stasiun Kereta Api Bandung

Perkembangan sarana transportasi acap kali diidentikkan dengan perkembangan suatu kota. Dibukanya akses berupa jalan tol Purbaleunyi pada akhir April 2005, mendorong laju kedatangan wisatawan asal Jakarta ke Bandung secara drastis. Akibatnya, aktivitas pariwisata pun berkembang pesat. Sedikit demi sedikit wajah kota Bandung berubah karena perkembangan ini.
Seratus tahun sebelumnya, hal yang sama juga terjadi pada saat awal kota Bandung berdiri. Saat itu kereta apilah yang jadi titik awal kebangkitan ekonomi ibu kota Jawa Barat ini. Diresmikan pada 17 Mei 1884, stasiun Bandung beserta rel dan kereta apinya, dibangun karena adanya kebutuhan terkait dengan pembukaan perkebunan Bandung pada masa 1870-an. Sarana transportasi massal ini dibutuhkan untuk mengangkut hasil produksi seperti kina, teh, kopi dan karet. Pada masa itu, Bandung sendiri masih merupakan desa terpencil tetapi memiliki potensi hasil alam yang besar.
Jaringan kereta api pertama yang beroperasi melewati Stasiun Bandung adalah jalur kereta Bandung – Batavia yang melewati Cianjur dan Bogor. Pada tahap selanjutnya jalur kereta dilanjutkan menuju Cilacap dan kemudian ke Surabaya melalui Yogyakarta. Karena hanya ada satu jalur yang menghubungkan Batavia – Surabaya, secara otomatis stasiun Bandung menjadi tempat persinggahan para penumpang kereta jurusan tersebut. 
Jika pada mulanya wilayah sekitar stasiun masih berupa lahan terlantar, kedatangan tamu yang singgah di stasiun mulai mengubah wajah daerah tersebut. Penginapan, hotel, losmen, warung nasi, hingga restoran perlahan menjamur di area sekitar stasiun. Bangunan stasiun sendiri seakan menjadi pintu masuk para penumpang yang berasal dari daerah dan kebudayaan yang berbeda.
Pada tahun pertama jaringan kereta api dibangun di Bandung, jumlah penumpang yang turun-naik di Stasiun Bandung mencapai 32.000 orang dengan jumlah angkutan barang (bagasi) seberat 9.250 ton. Tigapuluh tahun kemudian jumlah penumpang sudah meningkat hingga 137.000 orang pertahun dan muatan 244.700 ton.
Peningkatan jumlah penumpang tersebut menyebabkan bangunan stasiun mengalami beberapa perombakan. Desain yang saat ini masih menghiasi wajah stasiun Bandung adalah karya E.H. De Roo yang dirancang pada tahun 1928 saat stasiun mengalami peningkatan kapasitas. 
Stasiun Bandung ini sendiri merupakan stasiun satu sisi sehingga sirkulasi penumpang melewati gerbang masuk yang berhubungan langsung dengan loket karcis yang berada dibagian kanan dan kiri. Untuk sirkulasi keluar, terbagi dua melalui pintu keluar yang terletak disayap kiri dan sayap kanan stasiun.
Peron utama stasiun menggunakan struktur beton dengan ornamen pada kepala kolom berbentuk segitiga, belah ketupat, dan persegi panjang. Detail ornamen kepala kolom menggunakan bentuk-bentuk geometri berupa segitiga, persegi panjang yang dapat ditemui hampir diseluruh kolom. (Vetriciawizach/Periset “PR”)

  • Lokasi                          : Jalan Kebon Kawung Kota Bandung
  • Berdiri                          : 17 Mei 1884
  • Arsitek                         : E.H. de Roo (desain ke-empat tahun 1928)
  • Perkembangan Sejarah :

          1884 : Stasiun berdiri dengan jalur Bandung – Batavia melalui Cianjur dan Bogor

          1894 : Dibuka jalur Bandung – Surabaya
          1906 : Dibuka jalur Bandung – Batavia melaui Cikampek – Purwakarta
          1909 : Perluasan bangunan stasiun
          1918 : Dibuka jalur Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali
          1919 : Dibangun jalur Bandung – Citeureup – Majalaya
          1921 : Dibangun lintas Citeureup – Banjaran – Pengalengan untuk perkebunan teh.
Sumber : Pikiran Rakyat

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.